Kadang-kadang aku bertanya, siapakah aku. Untuk apa aku harus ada. Apakah aku harus berbuat “apa-apa” yang menurut orang-orang sekitarku baik, atau menuruti kata hatiku.
Pertanyaannya, apakah orang-orang sekitarku memang baik, dan agar menjadi baik adalah mengikuti cara kerja dan tindakan yang mereka lakukan.
Televisi telah menjadi media yang murah dan nyata untuk melihat orang-orang disekitarku. Pagi ini aku melihat tayangan yang memperlihatkan sekelompok orang di daerah DEPOK yang mengatas namakan MUI yang menggebrek warung minuman keras dan meluluh-lantakkannya di tengah-tengah jalan. Menurut kelompok yang menggebrek tersebut mereka menyebutkan karena minuman keras tersebut HARAM , jadi harus dimusnahkan !
Mungkin benar pendapat mereka, dan tidak salah, tetapi caranya itu. Apakah itu benar ?
Perdebatan tentang itu rasanya menarik, tetapi yang jelas dari tayangan TV memperlihatkan bahwa masyarakat di DEPOK yang digrebek tersinggung dan ganti menggebrek balik. Di situ ditayangkan ada seorang anggota MUI yang kena batunya dipukuli rame-rame !
Kasian. Orang-orang kecil tersebut, benarkah mereka memahami apa yang mereka lakukan. Jika mereka benar-benar ingin menegakkan kebenaran di negeri ini, mengapa tidak berani mulai yang besar dulu, misalnya memberantas korupsi yang membuat negeri tidak sanggup mensejahterakan masyarakatnya yang paling bawah, sehingga mereka tetap tidak sejahtera meskipun sudah gonta-ganti president. Sayang sekali, meskipun di TV tersebut pemimpin-pemimpin mereka terlihat beratribut PUTIH-PUTIH, juga pici yang PUTIH-PUTIH juga (mungkin biar dilihat orang seperti malaikat yang suci) tapi beraninya hanya pada orang kecil.
Pada posisi mana aku sebaiknya bersikap ?