Sebagai ibukota, Jakarta masih manjadi suatu tumpuan. Kelengkapan fasilitas maupun perkantoran yang ada menyebabkan banyak orang berbondong-bondong ke Jakarta.
Banyaknya orang di Jakarta untuk bekerja dan berusaha, tidak ditunjang oleh ketersediaan perumahan di dalamnya, akibatnya mereka harus tinggal di pinggiran kota. Oleh karena itulah istilah Jabodetabek (JAkarta BOgor DEpok TAngerang BEKasi) cukuplah populer. Kesannya keren, padahal pinggiran kota !
Akibatnya apa ? Lalu lalang orang-orang dari tempat tinggal (di pinggiran) ke tempat kerja (kota) menyebabkan lalu lintas padat kalau tidak mau dikatakan crowded. Dimulai dengan sarana angkutan umum yang amburadul (penuh sesak dan lama karena perlu ngetem) , sedangkan sisi lain adanya kemudahan kredit sepeda motor, maka semakin semrawutnya jalan-jalan di Jakarta dan sekitarnya.
Jadi densitas kendaraan sudah sangat padat, ibarat got sudah penuh dengan air dan sampahnya yang terangkut sehingga di sana-sini pada berceceran (tidak terangkut).
Kondisi tersebut sudah berlangsung lama, pemerintah tentu juga pusing. Melihat kondisi tersebut pikiran awam tentu akan mengambil langkah tegas, yaitu :
- besarkan jalan agar volume yang dapat ditampung bertambah.
- bikin jalan alternatif baru (jalan tol atau arteri)
- bikin sarana pengangkut lain yang efektif (angkutan massa alternatif lain)
Itu adalah pikiran waras dengan logika berpikir sederhana.
Tapi apa yang terjadi, dipilihnya busway, modus angkutan baru tetapi mengambil porsi saluran jalan yang lama. Apa yang terjadi.
Memang kasus per kasus, untuk bagian jalan yang cukup lebar, sehingga bila diambil sebagian tidak menjadi masalah maka adanya sarana busway tersebut cukup membantu. Membantu kata saya, tapi bukan solusi tuntas.
Tapi jika bagian jalan yang dipakai untuk busway terbatas, lalu bagaimana ? Ya itu, pemakai jalan lain menjadi korban. Contohnya, silahkan aja lewat jalan protokol dari Cawang – Grogol, lihatlah bagian jalan yang dipakai busway pada jam-jam sibuk, yaitu pukul 6.30 – 9.00 pagi.
Gimana ?
Kayaknya kalau soal keruwetan jalan di ibukota kita ini, kayaknya belum tuntas. Ada solusi ?
Maret 6, 2008 pada 6:56 pm
Bener-bener bikin macet.